Ilustrasi AI (sumber: pexels.com oleh Tara Winstead).

Ilustrasi AI (sumber: pexels.com oleh Tara Winstead).

Artificial intelligence, ada sebagai penolong, juga bencana. Bagaimana tidak, kecerdasan buatan yang seharusnya memudahkan pekerjaan, malah buat mahasiswa susah lepas dari kepintaran buatannya.

ChatGPT (Generative Pre-trained Transformer) akhir-akhir ini sedang populer dikalangan mahasiswa.

ChatGPT merupakan chatbot berbasis NPL atau natural  language  processing sehingga berkemampuan untuk merespon dengan lebih alami dan manusiawi. Kemampuan ini dimanfaatkan mahasiswa sebagai alternatif dalam mengerjakan tugas karena jawaban akan terlihat seperti dibuat oleh manusia.

Memang benar, sih. AI memudahkan pekerjaan mahasiswa. Tapi ya tidak sampai mengerjakan sampai seluruh tugasnya juga. Jika sudah ketergantungan, ada tugas sedikit, pergi ke AI. Bahkan untuk tugas yang mudah sekalipun. Karena sudah merasa, “ah, ada ChatGPT ini kok.”

Loh, jangan salah. Saya tidak munafik. Sebagai mahasiswa, pastinya saya juga menggunakan AI untuk membantu tugas-tugas perkuliahan. Dari diri sendiri saja, sudah merasa bersalah jika menggunakan kecerdasan buatan ini dan takut ketergantungan.

Lalu, kenapa penggunaan ChatGPT bisa jadi bencana juga untuk mahasiswa? Karena dari kebiasaan mencari jawaban menggunakan AI, jika sudah ketemu jawabannya, pasti tidak akan dibaca ulang. Apalagi kalau mepet deadline!

Ketergantungan kecerdasan buatan dapat menurunkan kemampuan otak dalam berfikir. Ketika dihadapi sebuah permasalahan, kendati mencari jalan keluar dengan otak, jika menggunakan AI, otak tidak digunakan untuk mencari jalan keluar.

Jika untuk mencari referensi saja menurut saya –dalam pandangan mahasiswa yang berusaha untuk tetap objektif– masih bisa ditolerir. Karena ketika mencari referensi di AI, mahasiswa harus tetap membaca materi dan memilah mana yang harus dijadikan referensi tugas dan tidak.

Bahkan pada 2022, Los Angeles Unified School District membatasi akses ke ChatGPT melalui jaringan serta perangkat sekolah mereka. Tidak lama setelah LAUS bertindak terhadap pemblokiran tersebut, New York City Department of Education juga mengikuti langkah yang sama pada sekolah di wilayahnya.

Hal tersebut dilakukan dengan dasar bahwa penggunaan ChatGPT bertentangan dalam membangun kemampuan pemecahan masalah (problem solving) dan berpikir kritis (critical thinking) siswa (Rosenzweig dalam Setiawan dan Luthfiyani, 2023)

Terlebih juga chatbot memiliki kekurangan pada keakuratan sumber informasi yang diperoleh dan plagiarisme. ChatGPT tidak dapat dipertanggungjawabkan atas kesalahan informasi yang disajikan. Sehingga di sinilah kebijakan kita dalam menggunakan teknologi sebagai alat bantu.

Namun dari sekian sisi negatifnya, dengan AI mahasiswa mendapatkan pengetahuan baru dan bacaan baru sebagai penunjang selingan. Mahasiswa juga bisa melatih kemampuan risetnya, apakah jawaban yang diberikan valid datanya atau tidak. Kemampuan untuk parafrasa kalimat juga dilatih jika memang mahasiswa merupakan orang yang teliti.

Semua kembali pada niat dan kebijakan pemakai AI, apakah mereka mau bertanggung jawab atas apa yang diperolehnya dari kecerdasan buatan atau tidak. Manusia memiliki akal dan kemampuan untuk memilih tindakan yang akan memengaruhi dirinya sendiri.