Gelandangan yang sedang beristirahat di gazebo beralaskan tikar dan kain (foto oleh Hana Mufidah).

Gelandangan yang sedang beristirahat di gazebo beralaskan tikar dan kain (foto oleh Hana Mufidah).

Liputan oleh: Hana Mufidah

Alun-alun Kota Bekasi menjadi salah satu tempat wisata yang memiliki banyak kuliner terlebih di sore hari. Berjejer lebih dari 20 gerobak yang menjual berbagai makanan maupun minuman. Di tengahnya, berupa lapangan luas yang telah digelar alas sebagai tempat duduk para pengunjung ketika hendak menikmati hidangannya

Tempatnya strategis hanya dengan berjalan sekitar 9 menit dari stasiun Bekasi dari pintu keluar sebelah kanan meski agak sulit untuk menyebrang karena jalanan ramai oleh kendaraan yang melaju cepat dan tidak adanya zebracross maupun JPO (jembatan penyebrangan orang).

Dekat alun-alun, tepat di depannya terdapat Taman Kota Bekasi dengan banyak pohon rindang dan hijau. Namun sayangnya pagar pembatas berwarna hijau tua tersebut banyak yang sudah rusak dan berkarat. Wahana anak-anak seperti perosotan terlihat tidak layak pakai. 

Trotoar bergelombang dan tidak rata. Banyak daun jatuh berserakan hingga menumpuk. Sampah beberapa kali terlihat tergeletak sembarangan. Tong sampah pun penuh sampai terbalik. Rumput-rumput tidak dipangkas melainkan dibiarkan tumbuh tinggi.

Tidak hanya itu, gazebo yang terletak pada tengah taman kota dijadikan beberapa orang untuk berbaring dengan beralaskan tikar atau kain. Di dekatnya, bangku-bangku taman dijadikan tempat menjemur baju mereka, pohon-pohon pun dialihfungsikan untuk menggantung baju, dan bak mandi anak yang tidak sewajarnya ada di sebuah taman kota.

Baju yang dijemur seenaknya pada bangku taman.

Dimas, sebagai orang yang bekerja sebagai pengawas koordinator UPTD (Unit Pelaksana Teknis Daerah) yang bertugas menjaga, merawat, dan membersihkan Taman Kota Bekasi mengatakan bahwa mereka yang tidur di gazebo adalah orang-orang yang tidak memiliki tempat tinggal, tuna wisma, atau kasarnya gelandangan.

Hal ini dikarenakan pos yang sebelumnya dibangun pada bagian belakang taman kota jarang digunakan oleh petugas, sehingga dijadikan sebagai tempat mereka tidur ketika malam. Dimas mengatakan, para petugas tidak bisa mengusir mereka karena bukan wewenangnya dan hanya pekerja biasa di taman kota. Dengan begitu mereka berakhir merobohkan pos tersebut agar tidak ditempati. Akan tetapi, para tuna wisma justru berpindah ke gazebo.

“Kami nggak bisa apa-apa. Kami juga sempat menghimbau beberapa kali. Kalau ngusir kan agak kasar ya, jadi kita baik-baik ngomong, tapi mereka balik lagi,” ujar Dimas saat wawancara pada Jumat (14/01/23). “Yang penting sama-sama merawat dan menjaga saja,” lanjutnya.

Dimas mengatakan masalah terbesarnya adalah kebersihan yang kurang, disebabkan oleh petugas yang minim karena adanya pengurangan dari dinas dan nantinya juga akan ada Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) secara sepihak.

Tempat wisata yang seharusnya nyaman, aman, dan bersih, malah dijadikan para tuna wisma tempat tinggal. Bahkan dahulu seringkali ditemukan alat kontrasepsi. Mereka tidak selalu berada di taman kota setiap waktu. Mereka sering terlihat ketika hari hendak malam meski di siang hari terkadang sudah berada di gazebo.

Bak mandi bayi yang seharusnya tidak ada pada taman kota yang merupakan tempat wisata.

“Untuk kebersihan sih kurang, ya. Cuman, untuk suasana enak untuk duduk-duduk dan makan di sini,” ungkap Dzikri yang merupakan pengunjung untuk pertama kalinya ke Taman Kota Bekasi. “Dan kurang nyaman juga sih karena ada orang yang tidur di bangku sama di sana,” lanjutnya sembari menunjuk gazebo.

Badrun, seorang penjaga toilet umum sekitar taman kota yang beberapa kali juga ikut membersihkan taman kota dari daun-daun yang sering berguguran juga mengatakan bahwa orang-orang yang tidur di taman terlihat tidak etis karena taman kota merupakan salah satu tempat wisata.

Dimas memberikan informasi bahwa nantinya Taman Kota Bekasi akan dilakukan pembenahan dan revitalisasi secara bertahap dan perlahan mulai dari penggantian pagar yang lebih baik dan kokoh hingga gazebo yang kembali dibangun agar menjadi lebih menarik dan tertata.