Jakarta – Era revolusi industri yang makin pesat perkembangannya membuat sebagian orang mengkhawatirkan bagaimana masa depan kelak jika teknologi mendominasi lingkup berbagai macam bidang industri. Prof. Ir. Teddy Mantoro yang merupakan seorang Artificial Intelligence Technology and Poetry, namun lebih suka disebut sebagai penikmat puisi ini menjelaskan bagaimana AI membuat puisi.

Seminar internasional yang dimoderatori oleh Qori Islami Aris dalam rangka merayakan Puncak Perayaan Hari Puisi Indonesia 2021 di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki Sabtu (27/11/21), Teddy Mantoro dengan membawa tema Puisi dan AI mengajak peserta seminar untuk bersama-sama menganalisis mana puisi buatan mesin dan mana puisi yang dibuat oleh manusia dengan melibatkan perasaan.

Puisi adalah mengolah rasa dalam keindahan kata. Pencinta puisi adalah pencinta kebijaksanaan yang membahas hal mendasar tentang keberadaan/eksistensi dalam hidup, pengetahuan, nilai, kerendahan hari, ketinggian akal-budi & fikiran, dan keindahan makna kata (Canberra-Oz, Mantoro, 2007).

“Kita tidak bisa berharap sebuah mesin membuat puisi tiba-tiba bisa langsung puitis. Hasilnya pasti akan terdapat banyak kesalahan penulisan atau misspelling,” tegasnya. Ketika mesin membuat puisi, ia akan melalui berbagai proses. Mulai dari memprediksi huruf berikutnya dengan melihat pola-pola yang ada. “Jika salah, dia akan mengeluarkan feedback, terus mempelajari hingga kata-kata itu bisa sempurna,” lanjutnya.

Dari data pada 2017, The Washington Post menghasilkan 850 artikel yang dibuat bersama robot Heliograf. The Associated Press mempergunakan sebuah mesin pembelajar yang dapat mentransformasikan data mentah menjadi ribuan tulisan yang siap dipublikasikan. Robot tersebut dapat menulis 12 kali jumlah tulisan yang dikerjakan oleh manusia. Di Jepang sebuah novel yang dihasilkan oleh robot berhasil lolos pada putaran pertama seleksi Hoshi Shinichi Literary Award pada tahun 2016.

Lalu, apakah mesin-mesin yang dapat terus belajar mengolah kalimat hingga menjadi puisi yang sulit dibedakan dengan puisi buatan sastrawan itu kelak akan mengancam para sastrawan yang telah berdarah-darah melalui proses panjang untuk mencapai ke titik yang ia harapkan?

Teddy Mantoro menyebutkan bahwa level literasi di Indonesia memang masih rendah dan semakin kita ke depan, tingkat kesulitan suatu profesi akan semakin tinggi. “Maka dengan begitu, seorang sastrawan harus bisa membuat shock effect dalam karyanya atau membuat karya yang akan berdampak bagi orang-orang atau changing paradigm. Dengan begitu kita akan bisa mengalahlan persaingan dengan AI,” ucapnya. (Hana Mufidah)