Jakarta – Pada seminar internasional dalam rangka merayakan Puncak Perayaan Hari Puisi Indonesia 2021 Riri Satria, seorang Digital Transformation Researcher dan Consultant sekaligus pencinta puisi memaparkan bahwa pada tahun 2030, umat manusia memiliki 17 agenda pembangunan untuk mensejahterakan umat manusia.
“Akan tetapi, bagaimana dengan masyarakat yang memiliki kecintaan terhadap puisi? Apakah mereka dapat ikut andil dalam mewujudkan Sustainable Development Goals (SDGs)?” tanya Riri kepada seluruh peserta.
Dengan tema acara the Archipelago in International Poetry: Embrace the Past, Welcome the Future pada sesi ke-2 membahas Indonesian Poetry in the Future yang dilaksanakan pada hari Sabtu (27/11/21) di Teater Kecil Taman Ismail Marzuki, Riri membawa judul Tantangan Puisi dan Penyair pada Masyarakat Cerdas 5.0 sebagai topik yang akan dibahas.
Ia menyebutkan perkembangan teknologi digital serta perubahan peradaban membawa dampak ke berbagai aspek dalam kehidupan masyarakat mulai dari ekonomi, sosial, pendidikan, politik, hingga kesehatan.
Dari berbagai bidang aspek isu, perpuisian dan kepenyairan ikut terpengaruh akan dampaknya. Salah satunya isu bahwa topik puisi di masa sekarang sudah berkembang mengikuti perkembangan teknologi.
“Puisi tidak hanya sekadar membahas keindahan bulan, bintang, senja dan semacamnya, namun sudah meluas hingga ke bidang teknologi yang merefleksikan kehidupan masyarakat cerdas 5.0,” ungkapnya.
Isu lain yang diakibatkan adalah bagaimana para penyair dan sastrawan ditantang untuk membangun jejaring global karena zaman saat ini dunia sudah tidak terbatas untuk diakses dengan memanfaatkan kecanggihan teknologi yang ada.
Maka dari itu seseorang perlu untuk menyikapi perubahan dunia dengan benar. Seperti yang telah dijelaskan Riri bahwa ada empat sikap manusia dalam menghadapi perubahan. Yaitu sikap menolak perubahan, hanya mengamati perubahan, mengikuti perubahan, dan menciptakan perubahan. Setidaknya, kita menjadi seseorang yang mengikuti perubahan agar tidak tertinggal. (hm)
