Poster kampanye #TolakGambarAI (sumber: X @hharisu)


Bekasi - Media sosial terutama X, yang dahulunya Twitter, sedang diramaikan dengan trending #TolakGambarAI sebagai bentuk protes dan kampanye mereka untuk tidak menggunakan kecerdasan buatan dalam pembuatan seni digital.


Hal yang membuat gambar buatan AI ini ditolak adalah karena data-data yang diolah oleh AI merupakan karya-karya yang memiliki hak cipta dan digunakan tanpa adanya persetujuan kreator. 


Pada dasarnya generative AI dikembangkan sistem kerjanya menggunakan database yang ada pada jaringan internet sebagai bahan pembelajaran sistem. Nantinya hasil dari generative image AI ini merupakan gabungan dan manipulasi antara karya-karya seniman yang telah dipadukan menjadi karya baru. Sedangkan gambar-gambar yang terdapat dalam dunia maya ini masing-masing memiliki hak cipta meski tidak tertulis.


Penggunaan gambar AI generatif ini dianggap merugikan para seniman di Indonesia. Mereka menyebut jika penikmat gambar AI tidak menghargai seniman-seniman. Terlebih jika menggunakan gambar AI sebagai produk komersial, padahal pembuatan gambar AI ini gratis. Hal tersebut dianggap menyalahi aturan terkait hak cipta.


Hingga saat ini, para seniman di X terus menaikkan tagar ini. Tidak jarang kampanye ini menjadi kesempatan bagi mereka sebagai ajang unjuk gigi mereka akan karya-karyanya. Mereka juga mengedukasi khalayak medsos akan problematika gambar buatan teknologi buatan ini. 


Selain itu mereka juga mendorong orang-orang untuk lebih mendukung seniman lokal dengan membeli jasa komisi daripada membuat gambar menggunakan AI. #TolakGambarAI sempat masuk dalam tren X di Indonesia pada Selasa (3/1/2024). (Hana Mufidah)